HABIB SALIM : WALA’ ITU HANYA KEPADA ALLAH, BUKAN KEPADA PRIBADI MANUSIA

ustadz salim pkspasuruan

Pasuruan, pkspasuruan.org.–Taujih Ustadz Salim berikut ini sebenarnya pernah disampaikan beliau saat beliau menghadiri Rakorwil di Jateng bulan Januari 2016 yang lalu, namun menurut pkspasuruan.org, taujih ini masih sangat relevan kita baca sekarang agar kita tidak terlalu larut atau terpaksa larut dalam kondisi hidup berbangsa dan bernegara yang semakin ‘tidak terarah ini’.

Dalam tarbiyah, awal-awal tarbiyah itu (ini pengamatan saya sekian puluh tahun) itu biasanya kalau dipindahkan dengan Murobbi yang lain ada resistensi, rasanya ga mau, yang penting inilah pemimpin kita. Tapi kalau sudah sekian tahun, wala (loyalitas) itu pada perjuangan dan pada dakwah, bukan wala itu kepada pribadi-pribadi. Taat kepada Allah, taat kepada Rosul dan taat kepada pimpinan. Dan intimanya itu pada intima masiri, pada perjuangan itu sendiri.

Sebab suatu saat nanti akan terjadi benturan, setahun dua tahun tiga tahun, kemudian terjadi benturan dengan dakwah itu sendiri, mana yang harus dipilih.  Oleh karena itu para Murabbi sendiri juga harus menanamkan bahwa WALA itu kita berikan hanya kepada Allah dan dakwah.

Dalam sejarah kita dapatkan bahwa setiap yang berbuat itu tidak ada intimanya kepada pribadi-pribadi, meskipun tentunya yang namanya ihtirom penghormatan itu tetap. Namun kalau sudah keputusan Syuro, itu akan terjadi ketika syuro memutuskan A, antum cenderungnya kepada B karena hubunganya sangat intim, kalau demikian antum harus bersikap apa? Maka akan terjadi sikap-sikap yang dilapangan bisa saja berbeda. Semuapun harus taat. Kalau dalam syuro yang menjadi pemimpin Si Fulan ya harus ditaati, meskipun dari Mustawa dia lebih rendah.

Antum bayangkan bagaimana Usamah bin Zaid ketika Rosulullah mewasiatkan dia yang akan memimpin pasukan. Ada yang berani ganti?

Siapa Usamah?
Usianya belum sampai 20 tahun, dibelakangnya itu Senior-senior dari para Sahabat Rasulullah. Semuanya mengatakan Sam’an Wathoatan pada pemimpin kita, harus begitu. Karena itulah Ibadah, ketaatan kepada Allah dan ketaatan kepada Rosulnya.

Dalam tarbiyahpun seharusnya begitu. Supaya orang itu tidak muncul Ghurur, kesombongan pribadinya. Saya ini lebih hebat, lebih mampu, lebih ini, kenapa yang dipilih ini. Dan itu awal dari kegagalan Tarbiyah itu sendiri.

Antum bayangkan Ibnu Umar, saya siap musafir dengan antum, tapi saya tidak mau jadi pemimpin, dalam perjalanan saya siap menjadi khodim, yang dicari berkhidmat, bukan perintah sana sini. Memang pemimpin kalau perintah enak, kamu carikan ini, kamu carikan itu, kemudian dia duduk di kursi yang goyang-goyang.

Antum coba lihat Rosulullah ketika melihat ada sahabat yang akan memotong kambing, Rosulullah berinisiatif untuk mencari kayu. “Saya yang cari kayu” ujar Rosul.
Para sahabat mengatakan sudah cukup, kita tidak perlu lagi.
Apa Jawaban Rosulullah ?
Rosulullah bersabda :”saya bagian dari kalian dan perumpamaan kita dengan dunia itu seperti seorang musafir kemudian berhenti sejenak, kemudian berjalan. Itulah dunia kita. Hanya sejenak saja.

Ada yang menggambarkan, dunia itu begitu cepatnya, kalau seseorang mempunyai anak, diadzani ditelinga kanan, komat ditelinga kiri.

Terus pertanyaanya Sholatnya kapan? Biasanya kalau sudah Adzan dan Komat biasanya Sholat. Kapan Sholatnya? Jawabanya waktu kita menyolatkan dia setelah menjadi jenazah. Itulah hidup di dunia. Antara Komat dan Sholat itu pendek sekali.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Spam Protection by WP-SpamFree