KEYNOTE SPEECH AT INTERNATIONAL CONFERENCE OF ASIAN POLITICAL PARTIES (ICAPP) BY SOHIBUL IMAN

 

“PELUANG DAN TANTANGAN SISTEM POLITIK INDONESIA” OLEH MOHAMAD SOHIBUL IMAN,Ph.D. (PRESIDEN PKS)

Assalamu’alaikum Warrahmatullahi Wabarakatuh,

Yang Terhormat, YM.  Jose De Venesia Jr (Chairman of ICAPP Standing Committee),

  1. Fransisco Cafiero (Vice Chairman of COPPPAL)
  2. Dr. Nafie Ali Nafie (CAPP Secretary General)

 

Selamat datang di Indonesia kepada para delegasi International Conference of Asian Political Parties (ICAPP), para pimpinan Partai Politik dari negeri sahabat dari tiga benua: Afrika, Asia dan Amerika Latin. Sebuah kehormatan bagi kami berdiri di sini untuk berbagi pandangan tentang “Peluang dan Tantangan Sistem Politik di Indonesia”.  Semoga pandangan ini bermanfaat untuk kita semua.

 

Para Hadirin Yang Terhormat,

  1. 18 tahun yang lalu, bangsa Indonesia pernah mengalami krisis ekonomi terburuk dalam sejarahnya. Krisis ekonomi tersebut juga diikuti dengan krisis politik, krisis sosial, krisis kepemimpinan dan ancaman disintegrasi bangsa. Saat itu banyak kalangan, baik dari dalam maupun luar negeri, sempat meragukan keberlangsungan Republik ini sebagai sebuah negara-bangsa yang bersatu: apakah mampu bertahan sebagai Negara Kesatuan yang kokoh ataukah justru menuju ke lembah kehancuran?
  1. Ada kalangan yang menyebut Indonesia sebagai ‘Messy State”, yakni negara yang amburadul atau berantakan dan diprediksi mengalami balkanisasi yakni terpecah-pecah menjadi negara-negara kecil yang saling bertentangan satu sama lain. Spekulasi pun bermunculan dengan berkembangnya isu bahwa Militer akan mengambil alih kembali kepemimpinan nasional, membungkam kembali gerakan masyarakat sipil dan membunuh demokrasi yang baru saja terlahir.
  1. Namun, semua prediksi tersebut ternyata salah. Bangsa Indonesia memilih reformasi yang damai dengan demokrasi konstitusional sebagai jalannya. Konstitusi diamandemen, pers diberi kebebasan, militer dikembalikan ke barak, dwi fungsi ABRI dihilangkan, hubungan militer-sipil dinormalisasi, hak-hak asasi manusia dijamin penuh di konstitusi dan peran parlemen sebagai representasi suara rakyat diperkuat, proses suksesi kepemimpinan di legislatif dan eksekutif baik di pusat maupun daerah dapat dijalankan dengan cukup baik.
  1. Meskipun banyak capaian positif yang telah diraih, masih banyak tantangan yang dihadapi oleh bangsa Indonesia. Secara garis besar, ada TIGA ASPEK yang menjadi tantangan sistem politik Indonesia. Dalam kesempatan yang istimewa ini, izinkanlah saya mengurai satu per satu tantangan tersebut.

Pertama, Aspek Prosedural.

  1. Pasca reformasi, Indonesia mengalami dua peristiwa politik besar, yakni: demokratisasi dan desentralisasi. Demokratisasi telah membuka kran kebebasan semua pihak untuk berbondong-bondong mendirikan partai politik dan berkompetisi dalam pemilihan umum. Di lain pihak, desentralisasi telah melahirkan ‘local boss’ yang memiliki kewenangan otonom dalam menata dan mengelola daerahnya dengan lebih leluasa. Sayangnya, desentralisasi dan demokratisasi yang berjalan bersamaan tidak diikuti dengan tata kelola kelembagaan yang baik (good governance).
  2. Kebebasan politik yang berkolaborasi dengan kapitalisme telah melahirkan sistem politik berbiaya mahal (high cost politics). Sistem politik yang berbiaya mahal akan menjadikan politik terkunci pada kepentingan pemilik modal sehingga partai politik terjebak menjadi pemburu rente ekonomi atau rent-seeking party bukan partai yang memperjuang kepentingan rakyat melalui perjuangan kebijakan (policy seeking party).

Kedua, Aspek Substansial.

  1. Demokrasi bukan hanya tentang aspek prosedural, tetapi juga menyangkut aspek substansial. Apa manfaat demokrasi bagi rakyat? Apakah ia mampu membawa kepada kesejahteraan? Apakah iya mampu menegakkan keadilan? Apakah ia mampu menjamin dan melindungi hak-hak asasi warganya? Substansi demokrasi pada akhirnya adalah menciptakan keadilan dan kesejahteraan untuk seluruh rakyat.
  1. Logika demokrasi adalah logika kepentingan publik. Dia hadir dengan semangat untuk memberikan keberpihakan yang nyata dalam memecahkan persoalan-persoalan yang dialami oleh masyarakat. Demokrasi bukan sekedar retorika dan kata-kata, ia adalah manifestasi dari kerja-kerja nyata yang dirasakan oleh setiap warganya.
  1. Dalam konteks demokrasi substansial, Indonesia harus banyak berbenah. Demorkasi masih belum mampu mengurangi ketimpangan ekonomi yan masih sangat tinggi, jurang antara si kaya dan miskin semakin besar, jumlah rakyat miskin semakin meningkat, penegakan hukum yang lemah, di saat yang sama penegakan hukum seolah-olah menjadi proxy kepentingan politik tertentu sehingga memunculkan apa yang disebut dengan interlocking politics (politik yang saling mengunci).

Ketiga, Aspek Institusional.

  1. Aspek ketiga yang tidak kalah penting adalah tentang desain institusional atau kelembagaan sistem politik kita. Sebagai contoh, apakah desain kelembagaan sistem presidensial multipartai sudah tepat bagi Indonesia?
  1. Sistem presidensial multipartai rentan mengalami pemerintahan yang terbelah ataudivided government dimana Partai penguasa ternyata tidak didukung oleh kekuatan mayoritas di parlemen. Persoalan akan jauh lebih rumit jika keterbelahan tidak hanya terjadi di parlemen, tapi di dalam koalisi partai spendukung. Fenomena internal gridlockakibat friksi kepentingan sesama partai pendukung adalah buah dari tidak adanya pengaturan yang kokoh terkait kelembagaan koalisi partai politik.
  1. Desain kelembagaan hubungan pemerintah pusat dan daerah juga menjadi tantangan tersendiri. Di titik manakah seharusnya desentralisasi dijalankan: apakah di level provinsi ataukah kota/kabupaten? Bagaimana menempatkan konsep otonomi dalam kerangka Negara Kesaturan Republik Indonesia? Bagaimanakah menyelaraskan konsep pembangunan nasional dengan pembangunan wilayah/daerah di era otonomi daerah? Pengalaman 12 tahun otonomi daerah harus menjadi lesson learned dalam membentuk desain kelembagaan hubungan pusat dan daerah yang lebih baik kedepannya.

Para Hadirin Terhormat,

  1. Kami Partai Keadilan Sejahtera (PKS) sebagai anak kandung reformasi yang lahir dari bergulirnya gerakan reformasi 1998 memiliki konsep apa yang disebut dengan ‘Transformasi Struktural’. PKS meyakini bahwa Partai Politik memiliki peran besar untuk menjadi aktor utama perubahan. PKS menginginkan agar politik Indonesia bisa naik kelas menjadi politik berbasis kinerja yang transformatif. PKS menginginkan agar partai politik bisa keluar dari jebakan politik involutif, yakni politik yang hanya sibuk dan terus berputar-putar dengan kepentingannya sendiri tanpa memberikan kebermanfaatan yang nyata untuk rakyatnya.
  1. Tranformasi Struktural dalam platform PKS tercermin dalam tiga hal.
  1. Pertama, mengubah sistem politik dari berbiaya mahal menjadi sistem politik yang lebih terjangkau. Bagi PKS, sistem politik harus mampu melahirkan aktor-aktor politik yang berintegritas, kredibel, independen dan mampu menjadi aktor perubahan yang komiten memperjuangkan kepentingan rakyat bukan aktor yang tergadai oleh kepentingan pemilik modal.
  1. Kedua, PKS ingin terus mendorong diwujudkannya good and clean political party governance atau tata kelola partai politik yang baik dan bersih. Wajah buruk partai politik saat ini karena partai politik mengalami misgovernance atau tidak terkelola dengan baik. Sehingga Partai Politik sebagai pilar utama demokrasi belum mampu merepresentasikan dirinya sebagai pembela kepentingan publik dalam memperjuangkan agenda politiknya di ruang-ruang publik.
  1. Dan ketiga, memperkuat rule of law & law enforcement agar tercipta pemerintahan yang efektif dan berwibawa. Tanpa ada rule of law & law enforcement maka kondisi akan chaos, berantakan, saling bertabrakan satu sama lain sehingga menjadikan negara ini lemah dan tidak mampu hadir dalam merespon setiap denyut permasalahan rakyatnya.
  1. Ketiga hal tersebut di atas harus dibangun dalam semangat kebersamaan dan kesadaran atas keberagamaan sebagai bangsa. Partai Keadilan Sejahtera (PKS) sebagai Partai Islam berkomitmen untuk senantiasa membangun komunikasi dengan berbagai elemen bangsa tanpa membedakan latar belakang budaya, agama dan warna ideologi.
  1. Kader PKS terbukti mampu bersanding dengan wakil dari partai lain dalam memimpin daerah yang sangat plural/majemuk seperti Salatiga dan Jayapura. Pasca Pilkada Serentak 2015, kader PKS berhasil memenangkan di beberapa daerah pemilihan dua diantaranya adalah Kabupaten Sambas di Kalimantan Barat dan Kabupaten Berau di Kalimantan Timur. Dua daerah ini memiliki karakteristik yang cukup kontras. Sambas terletak di daerah perbatasan dan daerah berkembang sedangkan Berau merupakan daerah yang kaya dan potensial maju.
  1. Kader PKS juga dipercaya sebagai Gubernur Jawa Barat untuk dua periode. Jawa Barat merupakan Provinsi dengan jumlah penduduk terbesar di Indonesia yang jumlahnya mencapai 43 juta jiwa. Sebagai partai islam PKS juga diberikan kepercayaan kembali memimpin Sumatera Barat untuk kedua kalinya. Kader-kader PKS senantiasa berkomitmen dalam menjaga kedaulatan NKRI dengan terus bekerja dan berkarya dari daerah perbatasan dan pulau terluar hingga di pusat kekuasaan di pulau Jawa.
  1. PKS dalam visinya juga ingin menjadi kontributor peradaban dengan membuka tangan untuk bekerjasama dengan dunia internasional dalam merespon isu-isu internasional di bidang kemanusian, perdamaian dan keadilan. PKS telah membuka perwakilannya di berbagai negara di Lima Benua sebagai bukti kami sangat terbuka dengan jabat tangan yang erat dari negeri-negeri sahabat.
  1. Sebagai penutup Pidato ini, saya ingin mengutip kata-kata Mohamad Hatta salah seorang founding fathers Republik Indonesia, “Hanya ada satu negara yang menjadi negaraku. Negara itu tumbuh karena satu perbuatan. Dan itu adalah perbuatanku. ” Sebagaimana Firman Allah Swt dalam Al-Quran Surat At-Taubah: 105, “Bekerjalah kamu, maka Allah dan RasulNya serta orang-orang beriman akan menyaksikan pekerjaanmu itu”. Mari kita terus bekerja, bekerja dan bekerja untuk generasi kita, generasi anak cucuk kita dan untuk kehidupan umat manusia yang lebih baik di masa mendatang. Terimakasih.

Wassalamu’alaikum Warrahmatullahi Wabarakatuh.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Spam Protection by WP-SpamFree