‘BENANG MERAH’ ZAKIR NAEK, MURSI DAN ERDOGAN

Bangil, pkspasuruan.org. Ini tulisan Umi Kulsum…

Nak, mari belajar benang merah itu.

Zakir Naik, dai yang cerdas dan terkenal kedalaman ilmu agamanya, dianggap teroris dan terancam hidupnya. Ceramahnya ditunggu. Diskusinya dinanti. Tetap saja, ia dianggap pantas dinista dan dicurigai. Dikata-katai dengan tuduhan aneh dan tidak masuk akal.

Mursi, presiden Mesir yang sholih, ahli masjid, penghafal quran, dikudeta dan dikhianati dalam dakwah dan perjuangannya. Walau ia presiden sah, pemimpin konstitusional, pembuat makar memiliki sejuta alasan untuk menelikung. Sejuta alasan itu, walau tidak rasional sekalipun, tetap dianggap layak.

Erdogan, ksatria Turki. Yang lantang pembelaannya terhadap kaum muslimin di Palestina. Yang menerima pengungsi Suriah. Yang gagah menentang penjajahan Israel atas Palestina.
Yang membalik sekulerisme di Turki. Yang disayang rakyatnya.
Kemarin ia dikudeta, kudeta yang gagal.

Benang merah itu, sudah terlihat, Nak? Belum?

Baiklah. Satu contoh pamungkas, dari manusia paling keren sedunia. Nabimu, Rasulullah saw.

Dikenal sebagai pemuda yang terjaga hidupnya, tak pernah dekat-dekat maksiat.
Amanah, dan ucapannya terpercaya.

Garis bawahi itu Nak, ucapan Beliau saw selalu terpercaya. Gelarnya Al amin. Artinya, tak satupun penduduk Mekah yang bisa menemukan cacat pada akhlaqnya. Semua percaya. Semua merasa aman. Semua yakin Beliau saw sangat bisa diandalkan.
Ketika mengabarkan kenabiannya, kau kan tahu bagaimana selanjutnya, Nak?
Dikatai sebagai penyihir. Gila. Linglung, nglindur. Para tukang mengata-ngatai itu memnadak lupa dengan pengakuan mereka sendiri mengenai ketinggian akhlaq Beliau saw.
Para penghalang dakwah itu menutup mata terhadap pengalaman mereka bermuamalah dengan Beliau saw yang tidak bercacat.
Fokusnya hanya satu : bunuh karakternya, musnahkan cahaya kebaikannya, halangi jalan dakwahnya.

Benang merah itu Nak, ada pada tabiat jalan dakwah dan kebaikan.

Dimanapun kau berada, ketika jalanmu dinisbahkan pada dakwah dan perbaikan, maka kesulitan akan menyertai.
Bisa kau akan dicurigai. Dimata-matai. Difitnah. Dijelek-jelekkan.
Dijegal, dihalangi. Bahkan, diancam bunuh.

Nelongso? Tentu.
Terkejut? Pasti.
Heran dan takjub dengan rupa-rupa tuduhan dan fitnah? Wajar.

Tapi jangan pernah menyerah pada nelongso, terkejut, heran, sakit hati, dan perasaan-perasaan lainnya.
Bangkit, Nak. Anggap ia benturan yang akan menguatkanmu. Wujudkan ia sebagai vitamin yang akan mengokohkanmu.

Jadilah mata air bening, yang tetap menemukan caranya sendiri untuk mengalir. Tak peduli sebesar apa halangan membatasinya.

Jangan berhenti, Nak. Karena air yang menggenang, akan keruh dan membusuk. Menjadi kubangan bakteri dan kuman.

Oh ya, satu lagi. Yang ini penting sekali.
Hati-hati membawa hidupmu. Jangan sampai dirimulah yang menjadi aktor pelaku fitnah, mata-mata, pemaki, dan penyebar kecurigaan terhadap gerakan kebaikan dan dakwah.

Hidupmu terlalu berharga untuk menjadi pengecut sejenis itu.

2 Responses to ‘BENANG MERAH’ ZAKIR NAEK, MURSI DAN ERDOGAN

  1. yanuar benny k says:

    Sangat memotivasi

  2. allamal furqon says:

    Hasbunalloh fa huwa hasbu

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Spam Protection by WP-SpamFree