SIAPA PKS SEBENARNYA??

ustadz salim baru pkpasuruan
Bangil, pkspasuruan.org – Ada orang sering bertanya “PKS itu sebenarnya siapa?”. Ada orang sering menuding “PKS itu Muhammadiyah”, “PKS itu Wahabi”, “PKS itu anti ini dan itu”. Pertanyaan dan pernyataan seperti itu sering kita dengar, baik disebabkan karena faktor ketidaktahuan maupun tendensi politik tertentu.

Secara sederhana, kita bisa menjawab bahwa PKS itu memiliki haluan sebagaimana Gontor. Gontor adalah pondok pesantren yang bercitarasa internasional, dimana seluruh santrinya diwajibkan menggunakan bahasa arab dan inggris dalam berkomunikasi. Namun poin utama yang ingin kami sampaikan adalah, Gontor tidak membuat seseorang menjadi berpaham tertentu.

Mereka yang basicnya NU tetap menjadi orang NU saat nyantri di Gontor. Demikian pula mereka yang berlatar belakang Muhammadiyah. Hal yang sama berlaku pada ormas yang lainnya. Karena itu, kita mengenal ada KH Hasyim Muzadi (mantan ketua PBNU), Prof Dr Dien Syamsuddin (mantan ketua PP Muhammadiyah), Dr Hidayat Nur Wahid, MA (mantan presiden PKS) adalah alumni Ponpes Gontor. Gontor tidak mengubah latar belakang pemahaman keagamaan seseorang, hanya memodernisasi cara pandang dan pola pikirnya. Kira – kira, seperti itulah PKS.

Jika selama ini PKS diimejkan dengan Muhammadiyah, Wahabi dll, mungkin karena banyak pula kader PKS yang berangkat dari ormas tersebut. Namun pada kenyataannya, kader PKS sebenarnya berasal dari banyak elemen, berakar dari banyak ormas dan memiliki sanad keilmuan yang beragam. Dan pada perhelatan agenda Silaturahim Akbar 1437 H yang diselenggarakan oleh DPD PKS Kabupaten Cilacap, justru aroma Nahdliyin terasa sangat kental.

Al Mukaram KH Dr Muslih Abdul Karim, MA mengawali dengan dzikir berjama’ah khas model KH Arifin Ilham. Beliau juga mengajak audiens untuk berdoa sambil berdiri dan mengangkat tangan. Sekedar catatan, berdoa sambil mengangkat tangan masih jadi perdebatan dibeberapa kalangan. Beliau juga senang melontarkan beberapa canda ringan dalam ceramahnya yang membuat peserta tersenyum dan tertawa. Sekedar catatan, beberapa model kajian islam biasanya didominasi dengan ungkapan yang keras, ber-genre serius dan banyak fenomena tahdzir.

Meskipun perhelatan Silaturahim Akbar kali ini sangat khas nahdliyin, apakah membuat sebagian peserta menjadi gelisah dan antipati? Ternyata tidak. Mereka mengikuti dengan khidmat, hingga akhir acara. Tidak ada peserta yang mufaraqah dari barisan / lokasi. Karena warga PKS sadar bahwa makmum harus taat kepada imam. Jadi, siapapun yang menjadi imam (penceramah), maka kewajiban makmum (audiens) untuk mengikutinya dengan penuh takdzim.

Jika masih ada pandangan negatif kepada PKS, mari kita berhusnuzhan bahwa mereka melakukannya karena belum tahu siapa sebenarnya PKS itu. Menjadi tugas kita bersama untuk menjelaskan krpada mereka. Tentu saja bil hikmah, wal mau’izhatil hasanah wa jaadilhum billati hiya ahsan. Wallahu a’lam.[syf]

Penulis : Eko Jun

sumber: pkskotamedan

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Spam Protection by WP-SpamFree