USTADZ AMIN S, LC: PERAN PENYAIR DI ZAMAN NABI ITU MIRIP DENGAN WARTAWAN SEKARANG

u-amin-dauroh

Bangil, metrosoerya.com – Ustadz Amin Syukroni dari Bangil, Minggu(23/10) berkesempatan memberikan taujih dalam acara Daurah Islamiyah Dapil 4 PKS Kabupaten Pasuruan di gedung Majelis Daerah KAHMI Kabupaten Pasuruan di Perumahan Yadika Regency (KYR). Daurah yang diikuti oleh beberapa jurnalis Pasuruan ini dilaksanakan dengan tujuan akhir pembentukan komunitas jurnalis islam di kabupaten Pasuruan.

Salah satu materi yang cukup menarik disampaikan oleh ustadz Amin dalam ceramahnya adalah bercerita kepada para jama’ah tentang penyair pada zaman Rosululloh SAW.  Penyair pada zaman tersebut tidak menulis, melainkan dengan melihat situasi dan kondisi saja para penyair langsung bisa bersyair secara langsung. Apabila penyair menyanjung seseorang dalam syairnya, sudah bisa dipastikan orang tersebut akan disanjung oleh masyarakat. Tetapi apabila penyair tersebut menjatuhkan harkat dan martabat seseorang, maka jatuhlah harkat dan martabat orang tersebut dihadapan masyarakat. Itu semua dikarenakan sang penyair melihat sesuai dengan kenyataan yang ada.

Ust. Amin juga menerangkan tentang pada zaman jahiliyah, dimana di zaman tersebut adalah zaman kebodohan. Di zaman jahiliyah ini khamr (minuman keras) menjadi bisnis home industry. Disetiap rumah penduduk membuat khamr. Mereka bodoh dalam hal ketuhanan, sehingga mereka tidak mengenal perikemanusiaan.

Pada zaman jahiliyah orang yang bodoh itu akrab dengan tiga hal, pertama yaitu akrab dengan kehinaan. Jadi mereka yang bodoh dihina oleh kaum yang ekonominya lebih mapan. Yang kedua adalah akrab dengan kelemahan. Mereka kaum yang lemah selalu diinjak-injak oleh kaum yang berkuasa atau yang mempunyai kekuasaan. Yang ketiga adalah akrab dengan perpecahan, sehingga kaum tersebut selalu menyelesaikan masalah dengan kekerasan.

Tidak hanya itu saja, Ust. Amin juga menyinggung zaman kebodohan di abad ke 20 ini. Pada zaman ini kebodohan mulai terjadi pada generasi muda. Dimana pada zaman yang secanggih dan modern ini para pemudanya justru sudah mengenal pornografi. Dimulai dari tingkat SMP, sudah banyak siswa-siswi SMP yang tidak mungkin tidak mengenal pornografi. Begitu juga para siswi ditingkat SMU/SMK, banyak juga yang menggugurkan kandungannya hasil dari hubungan diluar nikah. “Bahkan di Surabaya itu ada mucikari berusia 16 tahun”, ungkap Ust. Amin dengan santai. (dandung)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Spam Protection by WP-SpamFree